BUDIDAYA
UBI KAYU
SYARAT TUMBUH
Sebetulnya tanaman
ubi kayu dapat ditanam di mana saja, namun akan lebih baik jika ditanam pada
daerah yang sesuai dengan habitatnya atau keinginannya untuk tumbuh baik.
Secara umum syarat tumbuh tanaman ubi kayu yang optimal adalah sebagai berikut
:
a) Curah
hujan, tanaman ubi kayu dapat tumbuh dengan baik apabila curah hujan cukup,
tetapi tanaman ini juga dapat tumbuh pada curah hujan rendah (< 500 mm),
ataupun tinggi (5000 mm). Curah hujan optimum untuk ubi kayu berkisar antara
760-1015 mm per tahun.
Curah hujan terlalu
tinggi mengakibatkan terjadinya serangan jamur dan bakteri pada batang, daun
dan umbi apabila drainase kurang baik.
b) Suhu
udara, tanaman ubi kayu menghendaki suhu antara 18o-35oC. Pada suhu di bawah
10oC pertumbuhan tanaman ubi kayu akan terhambat.
c)
Kelembaban udara optimal untuk tanaman ubi kayu antara 60-65%.
d) Sinar
matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ubi kayu sekitar 10 jam/hari, terutama
untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.
e)
Ketinggian tempat yang baik dan ideal adalah 10 – 700 m dpl, sedangkan toleransinya
antara 10 – 1.500 m dpl.
f) Tanah,
Ubi kayu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Pada daerah di mana jagung dan
padi tumbuh kurang baik, ubi kayu masih dapat tumbuh dengan baik dan mampu
berproduksi tinggi apabila ditanam dan dipupuk tepat pada waktunya. Sebagian
besar pertanaman ubi kayu terdapat di daerah dengan jenis tanah Aluvial,
Latosol, Podsolik dan sebagian kecil terdapat di daerah dengan jenis tanah Mediteran,
Grumusol dan Andosol. Tanaman ubi kayu memerlukan struktur tanah yang gembur
untuk pembentukan dan perkembangan umbi. Pada tanah yang berat, perlu
ditambahkan pupuk organik
h)
Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal
5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar
4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netrai bagi pertumbuhan tanaman
ketela pohon.
BUDIDAYA UBI KAYU
Persyaratan dan
Penyiapan Bibit
Tanaman ubi kayu biasanya
diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Namun, tanaman ini juga dapat
diperbanyak dengan menumbuhkan bijinya. Cara ini hanya digunakan untuk tujuan
pemuliaan tanaman, bukan untuk budidaya, karena membutuhkan proses dan waktu
yang lama. Keuntungan melakukan perbanyakan tanaman dengan menggunakan stek
adalah
waktunya lebih cepat
dan hasilnya pun akan sama dengan tanaman induknya.
Syarat bibit yang
baik untuk bertanam singkong adalah sebagai berikut :
a)
Bibit berasal dari tanaman induk yang cukup tua (8-12 bulan), dan stek diambil
dari batang bagian tengah tanaman ubi kayu.
b)
Pertumbuhan induk harus normal, sehat, serta seragam.
c)
Batangnya telah berkayu dan berdiameter > 5 cm, dan lurus.
d)
Belum tumbuh tunas-tunas baru.
e)
Batang dapat digunakan sebagai stek apabila masa penyimpanannya kurang dari 30
hari setelah panen. Pada beberapa kultivar, seperti Rayong 3 dan Rayong 90,
masa simpan stek selama 15 hari setelah panen.
f)
Penyimpanan stek yang baik adalah dengan cara posisi batang tegak, disimpan di
bawah naungan.
g)
Panjang stek optimum adalah 20-25 cm, dengan jumlah mata tunas paling sedikit
10 mata.
h)
Sebelum tanam, stek dapat diperlakukan dengan insektisida dan fungisida untuk mencegah
serangan hama dan penyakit
Setelah dipilih
batang dari pohon induk yang memenuhi syarat, kemudian dilakukan penyiapan
bibit.
Tahapan penyiapan
bibit ubi kayu meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)
Bibit berupa stek batang dengan panjang sekitar 20 cm atau memiliki 4 mata.
b)
Pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c)
Stek yang terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25-50
batang stek.
d)
Semua ikatan stek yang dibutuhkan kemudian diangkut ke lokasi penanaman.
Hal penting yang
harus diperhatikan pada saat penyiapan bibit ini adalah bahwa :
–
Ukuran panjang bibit harus seragam, agar pertumbuhannya pun seragam.
–
Alat pemotong yang digunakan untuk memotong-motong batang singkong calon
bibit harus tajam, sehingga memungkinkan satu kali tebasan cukup untuk memotong
batang singkong. Mengapa harus tajam ? karena apabila kurang tajam
dikhawatirkan pemotongan yang berulang-ulang pada calon stek batang akan
mengakibatkan luka yang berlebihan, sehingga merusak calon bibit. Adanya luka memungkinkan
terjadinya serangan patogen yang menyebabkan penyakit.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah
dilakukan dengan tujuan :
–
untuk memperbaiki kondisi tanah yang tadinya padat menjadi lebih gembur,
–
membersihkan kebun yang akan ditanami dari gulma,
–
sebagai bagian dari kegiatan sanitasi atau kebersihan lingkungan, sehingga tempat
hidupnya sumber-sumber penyakit dan hama dapat dibersihkan.
Pengolahan
tanah berdasarkan jenis tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu:
1. Tanah ringan
atau gembur : tanah cukup dibajak atau dicangkul satu kali, kemudian diratakan
dan dapat langsung ditanami.
2. Tanah agak
berat : tanah dibajak atau dicangkul 1-2 kali, kemudian diratakan dan dibuat
bedengan atau guludan, untuk selanjutnya ditanami.
3. Tanah berat
dan berair: tanah dibajak atau dicangkul sebanyak dua kali atau lebih, kemudian
dibuat bedengan atau guludan sekaligus sebagai saluran drainase, penanaman
dilakukan di atas guludan.
Pada lahan
miring atau peka terhadap erosi, penolahan tanah harus dikelola dengan sistem
konservasi, yaitu:
1. Tanpa olah
tanah.
2.
Pengolahan tanah minimal adalah pengolahan tanah secara larik atau individual.
Pengolahan tanah ini
efektif untuk mengendalikan erosi, tetapi hasil ubi kayu pada umumnya rendah.
3.
Pengolahan tanah sempurna dengan sistem guludan kontur. Pengolahan tanah
sempurna didasarkan pada pencapaian hasil yang tinggi, biaya pengolahan tanah
dan pengendalian gulma rendah serta tingkat erosi minimal. Dalam hal ini tanah
dibajak dengan traktor 3-7 singkal piring atau secara tradisional (dengan
ternak) sebanyak 2 kali atau satu kali yang diikuti dengan pembuatan guludan.
Untuk lahan peka erosi, guludan juga berperan sebagai pengendali erosi,
sehinggaguludan dibuat searah kontur Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan
menggunakan cangkul atau bajak. Untuk areal yang luas, sebaiknya digunakan
traktor. Setelah tanah diolah dan dibersihkan, selanjutnya dibuat bedengan
ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk
memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pemupukan dan penyiangan. Untuk
menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah
gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur
kalsit/kaptan (CaCOS). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5
ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan
kasar, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.
Penanaman
1.
Penentuan Pola Tanam
Pola tanam adalah
sistem penanaman dalam berusaha tani.
– Pola
tanam monokultur
Jarak tanam yang
digunakan dalam pola monokultur ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1. 1 m x
1 m (10.000 tanaman/ha),
2. 1 m x
0,8 m (12.500 tanaman/ha),
3. 1 m x 0,75
m (13.333 tanaman/ha),
4. 1 m x 0,5 m
(20.000 tanaman/ha),
5. 0,8 m
x 0,7 m (17.850 tanaman/ha), dan
6. 1 m x
0,7 m (14.285 tanaman/ha).
Pemilihan jarak tanam
ini tergantung dari jenis varietas yang digunakan dan tingkat kesuburan tanah.
Untuk tanah-tanah yang subur digunakan jarak tanam 1 m x 1 m; 1 m x 0,8 m; 1 m
x 0,75 m maupun 1 m x 0,7 m.
Sedangkan untuk
tanah-tanah miskin digunakan jarak tanam rapat yaitu
1 m x 0,5 m, 0,8 m x
0,7 m.
– Pola
tanam tumpang sari
Pola tumpangsari
dilakukan dengan mengatur jarak tanam ubi kayu sedemikian rupa sehingga ruang
diantara barisan ubi kayu dapat ditanami dengan tanaman lain (kacang-kacangan,
jagung maupun padi gogo). Pengaturan jarak tanam ubi kayu diistilahkan dengan
double row (baris ganda). Ada beberapa pengaturan baris ganda pada ubi kayu,
diantaranya adalah :
1. Jarak tanam
baris ganda 2,6 m
Pada baris ganda 2,6
m ini, tanaman ubi kayu ditanam dengan jarak tanam 0,6 m x 0,7 m x 2,6 m.
Dimana 0,6 m merupakan jarak antar barisan dan 0,7 m merupakan jarak di dalam
barisan, sedangkan 2,6 m merupakan jarak antar baris ganda ubi kayu.
Pada jarak antar
baris ganda ubi kayu ini dapat ditanami dengan tanaman jagung, padi gogo,
kedelai, kacang tanah maupun kacang hijau.
2. Jarak tanam
baris ganda 0,5 m x 1 m x 2 m
Diantara baris
tanaman ubi kayu yang berjarak 2 m dapat ditanami dengan tanaman jagung, padi
gogo, kedelai, kacang tanah maupun kacang hijau.
3. Jarak tanam
baris ganda 0,5 m x 0,5 m x 4 m.
Diantara baris
tanaman ubi kayu yang berjarak 4 m tersebut dapat ditanami dengan tanaman jagung,
padi gogo, kedelai, kacang tanah maupun kacang hijau.
2. Cara
Penanaman
Cara penanaman
dilakukan dengan meruncingkan ujung atas stek ubi kayu untuk menghindari
tergenangnya air di batang agar tidak terjadi pembusukkan atau menghindari
patogen penyakit yang biasanya menyukai tempat-tempat yang lembab.
Stek batang kemudian ditanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga
bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek
ditanam dangkal saja. Lakukan pemberian pupuk pada saat penanaman. Pupuk
yang digunakan sebagai pupuk dasar ini biasanya adalah pupuk kandang.
Pupuk diberikan di sekeliling tanaman dengan diameter sekitar 100 cm. Tanah
disekeliling tanaman digali atau dibuat parit kecil. Kemudian pupuk
ditaburkan ke
dalam parit tersebut. Setelah itu ditutup dengan tanah dari bekas galian tadi.
Pemeliharaan Tanaman
1.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan
untuk mengganti bibit yang mati atau tumbuh tidak normal, dengan bibit yang
baru/cadangan. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari,
saat cuaca tidak terlalu panas agar tanaman yang disulamkan tidak layu.
Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman.
Penyulaman yang dilakukan pada minggu ketiga atau dapat mengakibatkan
pertumbuhan tanaman menjadi tidak seragam.
2.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan
dengan membuang gulma yang tumbuh di areal pertanaman ubi kayu. Dalam satu
musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan. Alat yang
digunakan dalam penyiangan ini dapat berupa cangkul, kored atau parang, sambil
menggemburkan kembali tanah. Penyiangan harus dilakukan hati-hati, jangan
sampai alat yang kita gunakan melukai tanaman ubi kayu.
3. Pembumbunan
Cara pembumbunan
dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat
seperti guludan. Waktu pembumbunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal
ini dapat menghemat biaya. Sama halnya dengan penyiangan, pembumbunan penting
dilakukan terutama agar umbi yang terbentuk dalam tanah menjadi besar-besar.
Jadi pembumbunan ini memberikan keleluasaan pada akar agar dapat tumbuh dan
berkembang membentuk umbi dengan baik.
4.
Perempelan/Pemangkasan
Pada budidaya tanaman
ubi kayu perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas, karena minimal setiap
pohon hanya mempunyai dua atau tiga cabang. Hal ini dilakukan agar batang ubi
kayu tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.
Selain itu, konsentrasi pertumbuhan tanaman ubi kayu akan lebih mengarah pada
pembentukan umbi, bukan daun. Kecuali dalam pembudidayaan dengan tujuan
untuk dipetik tunasnya.
5.
Pemupukan
Untuk mencapai hasil
yang tinggi perlu diberikan pupuk organik ( pupuk kandang, kompos dan pupuk
hijau ) dan pupuk anorganik ( Urea, TSP, KCL ). Pupuk organik sebaiknya
diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah. Volume pupuk organik yang baik
untuk 1 hektar tanaman ubi kayu minimal sebanyak 6 ton.
Tujuan utama
pemberian pupuk ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah. Pupuk anorganik
diberikan tergantung tingkat kesuburan tanah. Pada umumnya dosis pupuk anjuran
untuk tanaman ubi kayu adalah :
–
Urea dengan dosis 133 – 200 kg/ ha,
–
SP-36 dengan dosis 60 – 100 kg/ ha,
–
KCl dengan dosis 120 – 200 kg/ ha
Cara pemberian pupuk
adalah:
a.
Pupuk dasar :
1/3 bagian dosis Urea
dan KCl, serta seluruh dosis SP-36 diberikan pada saat tanam.
b.
Pupuk susulan :
2/3 bagian dari dosis
Urea dan KCl diberikan pada saat tanaman berumur 3 – 4 bulan.
6.
Pengairan dan Penyiraman
Kondisi lahan singkong
dari awal tanam sampai umur lebih dari empat atau lima bulan hendaknya selalu
dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu
dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan
dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung, akan tetapi
cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang paling baik digunakan adalah sistem
genangan, sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan
dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya
diberikan berdasarkan kebutuhan.
7.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Hingga saat ini belum
ditemukan penyakit yang berarti bagi tanaman ubi kayu dengan menggunakan
varietas unggul, seperti Darul Hidayah. Namun demikian, guna mencegah
kemungkinan bila terdapat hama dan penyakit pada tanaman ubi kayu maka di bawah
ini terdapat beberapa hama dan penyakit untuk diketahui.
Hama
a)
Uret (Xylenthropus)
Ciri : berada
dalam akar dari tanaman.
Gejala : tanaman mati
pada usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.
Pengendalian:
bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada
saat pengolahan lahan.
b) Tungau
merah (Tetranychus bimaculatus)
Ciri :
menyerang pada permukaan bawah daun
dengan menghisap cairan daun tersebut.
Gejala : daun akan
menjadi kering.
Pengendalian :
menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.
Penyakit
a) Bercak
daun bakteri
Penyebab
: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG.
Gejala :
bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun
kering dan akhirnya mati.
Pengendalian :
menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang
sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun.
b) Layu
bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
Ciri : hidup di daun,
akar, dan batang.
Gejala : daun
mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang, dan umbi langsung
membusuk.
Pengendalian
: melakukan pergiliran tanaman,
menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan
pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.
c) Bercak
daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab : cendawan
yang hidup di dalam daun.
Gejala : daun
bercak-bercak coklat, mengering, terdapat lubang-lubang bulat kecil dan
jaringan daun mati.
Pengendalian :
melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan
pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
d) Bercak daun
konsentris (Phoma phyllostica)
Penyebab : cendawan
yang hidup pada daun.
Gejala : adanya
bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.
Pengendalian :
memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman
yang sakit.
8. PANEN
Ubi kayu dapat
dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang, warna daun mulai
menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ubi kayu adalah 6-8 bulan
untuk varietas genjah dan 9-12 bulan untuk varietas dalam.
Ubi kayu dipanen
dengan cara menggunakan pengungkit atau mencabut batangnya secara langsung.
Umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.
Penanganan Pasca Panen
Faktor-faktor
yang mempengaruhi penanganan pascapanen umbian adalah sebagai berikut:
1. Umur tanaman
saat panen
2. Musim
saat panen (hujan atau kemarau)
3. Cara
panen
4. Cara pengangkutan
5. Cara pengeringan
Tahapan Penanganan Pasca Panen hasil pertanian
a. Pemanenan
Untuk
menentukan saat panen yang tepat diperlukan petunjuk untuk mengetahui waktu
pemanenan komoditi hasil pertanian. Penentuan waktu panen hasil pertanian yang
siap di panen dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
Visual : melihat warna kulit, ukuran, masih adanya sisa
tangkai putik, adanya dedaunan tua di bagian luar yang kering dan penuhnya buah
Fisik : mudahnya buah terlepas dari tangkai / adanya tanda
merekah, ketegaran dan berat jenis
Analisis Kimia : mengukur kandungan zat padat, asam,
perbanding zat padat dengan asam dan kandungan zat pati.
Perhitungan jumlah hari setelah bunga mekar dalam hubungannya
dengan tanggal berbunga dan unit panas.
Metoda Fisiologis : pengukuran pola respirasi (perbandingan
antara CO2 dan O2).
Pada
pemanenan hasil pertanian harus dilakukan secara hati - hati jangan sampai
terjatuh, tergores, memar, dan sebagainya, karena luka yang disebabkan oleh hal
tersebut akan menyebabkan terjadinya pembusukan akibat peningkatan laju
respirasi.
Untuk
menghidari kerusakan hasil pertanian pada saat pemanenan perlu diperhatikan hal
- hal berikut :
Jangan sampai hasil pertanian hasil panen terjatuh
Gunakan alat panen (gunting, pisau yang tajam
Wadah / Keranjang penampung hasil panen harus kuat, permukaan bagian
dalamnya halus dan mudah dibersihkan.
b. Pengumpulan
Lokasi
pengumpulan/penampungan harus didekatkan dengan tempat pemanenan agar tidak
terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat pengangkutan dari dan ke
tempat penampungan yang teralu lama/jauh.
Perlakuan/tindakan
penanganan dan spesifikasi wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat
dan karakteristik komoditi yang ditangani.
c. Sortasi
Hasil
pertanian setelah dipanen perlu dilakukan sortasi dan pembersihan, dengan cara
memisahkan hasil pertanian yang berkualitas kurang baik (cacat, luka, busuk dan
bentuknya tidak normal) dari hasil pertanian yang berkualitas baik. Pada proses
sortasi ini dapat sekaligus dilakukan proses pembersihan (membuang
bagian bagian yang tidak diperlukan). Pembersihan dapat dilakukan
dengan pisau / parang.
Selama sortasi
harus diusahakan agar terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan
menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang
dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
d. Pembersihan
/ Pencucian
Untuk
menghindari kerusakan yang tinggi pada hasil pertanian, sebaiknya segera
dilakukan pencucian agar hasil pertanian terbebas dari kotoran, hama dan
penyakit. Pencucian menggunakan air bersih yang mengalir untuk menghindari
kontaminasi.
Pencucian
dengan air juga berfungsi sebagai pre-cooling untuk mengatasi
kelebihan panas yang dikeluarkan produk saat proses pemanenan. Pencucian hasil pertanian dapat
menggunakan alat seperti sikat yang lunak.
Hasil
pertanian yang telah dicuci selanjutnya ditiriskan agar terbebas dari sisa air
yang mungkin masih melekat dan ditempatkan pada tempat tertentu. Untuk
mempercepat penirisan dibantu dengan kipas angin.
e. Grading
Setelah
sortasi dan pembersihan selesai, selanjutnya dilakukan penggolongan /
pengkelasan (grading). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil
pertanian yang bermutu baik dan seragam dalam satu golongan / kelas yang sama
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan atau atas permintaan konsumen.
Penggolongan
/ pengkelasan dilakukan berdasarkan berat, besar, bentuk / rupa, warna dan
bebas dari penyakit dan cacat lainnya.
Grading dapat dilakukan di tempat
panen / tempat pengumpulan. Untuk memudahkan pekerjaan penggolongan di
tempat pengumpulan, sebaiknya menggunakan meja yang bertepi. Pada tempat
tersebut dilengkapi pula dengan peralatan lainnya, misal timbangan, alat
pencuci, alat penirisan / pengeringan, dll.
Selama grading harus
diusahakan terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan
bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat
mempercepat proses pematangan / respirasi.
B. Metode atau
Cara Penyimpanan
Cara penyimpanan singkong segar telah banyak diteliti dan dipraktekkan. Tanpa
perlakuan khusus singkong segar hanya tahan sekitar 48 jam. Cara - cara
penyimpanan singkong segar adalah sebagai berikut :
1. Singkong segar
dipotong sepanjang 5 cm pada tangkainya. Diangin - anginkan supaya getahnya
kering. Singkong - singkong tersebut lalu diatur berjejer rapat dalam bak batu
bata yang ditumpuk tanpa menggunakan semen dan dasarnya sudah ditutup pasir
kering setebal 5 cm. Bak batu bata berukuran 1,0 m x 1,0 m x 1,0 m. Jejeran
singkong tersebut ditutup lagi dengan pasir setinggi 5 cm, begitu seterusnya
sampai pasir terakhir berjarak 10 cm dari tepi bahan. Setelah itu di atas pasir
ditutup lagi dengan batu bata dan yang terakhir ditutup seng. Pada penyimpanan
seperti ini, bak batu bata harus didirikan pada tempat yang aman serta tidak
terkena air hujan. singkong segar dapat tahan 1 - 2 bulan.
2. Singkong segar dalam
keadaan utuh ditumpuk di atas lapisan jerami, rumput atau daun - daun kering.
Diameter tumpukan jerami 1,5 m, tebalnya 15 cm. Sekitar 300 - 500 kg singkong
segar ditimbun di atas alas tersebut, kemudian ditutup dengan lapisan jerami
dan ditutup lagi dengan tanah hingga ketebalan 15 cm. Sekeliling timbunan
dibuat saluran drainase agar tidak terendam air. Keadaan cuaca sangat
mempengaruhi daya tahan singkong yang disimpan. Perlu diupayakan agar tidak terlalu
basah dimusim hujan. Daya simpan singkong dengan cara ini dapat mencapai 3
bulan. ( lihat gambar di bawah ).
3.
Singkong disimpan dalam peti ( kapasitas 20 kg ) yang diisi serbuk gergaji.
Kadar air serbuk gergaji dipertahankan sebesar 50 %, agar kelembabannya
terkendali sehingga singkong awet. Kondisi penyimpanan terlalu kering akan
cepat terjadi kerusakan fisiologis, sebaliknya bila terlalu basah menyebabkan
kebusukan. Seringkali digunakan sekam padi ( pesak ) sebagai peganti serbuk
gergaji. Tetapi sekam di nilai kurang baik karena daya serap dan distribusi air
kurang merata. Cara penyimpanan singkong segar seperti ini, pada keadaan yang
terlindung dari sinar matahari, dan suhu sekitar 26 oC dapat
mempertahankan singkong segar selama satu bulan.
4. Singkong segar yang telah
dibersihkan dicelup dalam larutan fungisida thiobendazole, atau fungisida
lainnya seperti Maneb dan benomyl. Kemudian dikemas dalam kantong plastik
polietilen. Pengemasan ini akan membantu mengawetkan singkong dari kerusakan fisiologis,
sedangkan pencelupan dalam fungisida dapat mencegah kerusakan oleh jasad renik.
Perlu diperhatikan agar singkong benar - benar segar ( 2 - 3 jam setelah panen
) pada saat di kemas. Cara penyimpanan seperti ini banyak digunakan di pasar -
pasar swalayan. Daya tahan singkong segar sekitar 1 - 3 bulan.
C. Tujuan
Penyimpanan
Penyimpanan merupakan proses
untuk mempertahankan daya simpan dan mutu ubi kayu. Tujuannya adalah
untuk :
a. Mempertahankan daya simpan ubi
kayu.
b. Menambah nilai ekonomis umbi ubi
kayu.
c. Memudahkan
pengolahan lebih lanjut.
d. Umbi ubi kayu
terhindar dari kerusakan akibat busuk, jamur, dan lain-lainnya.
D. Tanda - Tanda
Kerusakan
a. Secara mikrobiologis
Ditandai dengan pertumbuhan kapang disertai dengan timbulnya
bau dan perubahan warna.
b. Secara biologis
Ditandai dengan adanya bekas gigita/lubang 2.
c. Secara kimia
Disertai dengan pola pola warna kebiru-biruan, coklat
serta kehitaman oleh enzim atau bukan. Penyimpanan singkong pada suhu yang
cukup tinggi dapat mengakibatkan warna biru kehitaman yang disebutkepoyohan.
kepoyohan dapat terjadi sampai kebagian dalam umbi, khususnya bila terjadi
irisan atau pecah. Kepoyoan ini karena aktifitas enzim yang membentuk
terjadinya oksidasi polifenol dan glukosida linamarin yang mengandung senyawa
HCN.
f. Pengemasan
Pengemasan
berfungsi untuk melindungi / mencegah komoditi dari kerusakan mekanis,
menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memberikan nilai tambah produk serta
memperpanjang daya simpan produk, sehingga dalam pengemasan harus dilakukan
dengan hati - hati agar tehindar dari suhu dan kelembaban yang ekstrim (terlalu
tinggi / terlalu rendah), goncangan, getran, gesekan dan tekanan yang tinggi
terhadap kemasan hasil pertanian tersebut.
Beberapa contoh pengemasan hasil pertanian yang umum digunakan
adalah :
Keranjang : terbuat dari bambu, daun kelapa dan daun pandan.
Biasanya berbentuk persegi dan bulat. Kelemahannya adalah kurang kuat sehingga
tidak mampu melindungi dari tekanan. Namun, pengemas ini masih dipertahankan
mengingat harganya lebih murah. Untuk mengatasi kelemahan adalah dengan memberi
unsur bahan penguat pada sisinya. Untuk meminimalkan kerusakan, saat ini telah
banyak digunakan keranjang plastik yang mempunyai kekuatan lebih besar, permukaan
yang halus dan mudah dibersihkan sehingga dapat dipaki ulang.
Karung : dalam bentuk karung goni, karung kertas, karung kain, karung
plastik dan rajut. Umumnya penggunaan karung untuk mengepak hasil
pertanian pada pengangkutan jarak dekat. Pengemasan dengan karung sebaiknya
dilakukan untuk hasil pertanian yang bertekstur keras yang tidak memerlukan
penyusunan hasil pertanian.
Pengangkutan
hasil pertanian menuntut penanganan yang cepat dan dapat dilakukan dengan tiga
cara : pengangkutan melalui jalan darat (dipikul, sepeda, pedati, kendaraan
bermotor, kereta api), pengangkutan melalui laut (perahu dan kapal laut) dan
pengangkutan melalui udara (pesawat udara).
Hasil
pertanian akan tetap dalam kondisi prima, segar dan baik dikonsumsi oleh masyarakat
bila penanganan pasca panen dilaksanakan secara baik, benar dan tepat tanpa
harus melupakan peranan proses sebelum panen yang juga sangat mempengaruhi mutu
produk yang dihasilkan.
Diharapkan
dalam melakukan kegiatan pasca panen dapat menjamin konsistensi dalam menekan
kehilangan hasil produk pada setiap rantai penanganan pasca panen dan
meningkatkan mutu produk, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomis dan daya
saing produk.
warjuni
ini blog saya
Hasil panen utama dari tanaman singkong adalah umbinya. Umbi singkong merupakan
tempat untuk menyimpan persediaan cadangan makanan.
Umumnya
umbi singkong berbentuk bulat panjang, yang makin ke ujung ukurannya makin
kecil. Pada dasarnya, umbi singkong terdiri dari 3 lapis, yaitu :
1. Lapisan kulit luar
merupakan lapisan yang tipis, mudah robek dan berwarna cokelat, cokelat merah
atau cokelat abu - abu.
2. Lapisan kulit dalam
merupakan suatu lapisan kulit yang memiliki ketebalan antara 1mm - 3 mm,
berwarna rose, kuning ataupun putih.
3. Lapisan atau bagian daging
merupakan bagian terbesar ( memilki persentase terbesar ) dari umbi singkong.
Umumnya memiliki warna putih ataupun kuning.
Sementara, sumbu ( jawa : sorot ) yang ada dibagian tengah
dari lapisan daging umbi, berfungsi sebagai saluran untuk mengirimkan makanan
hasil fotosintesis daun ke dalam akar. Akar yang menyimpan makanan atau
cadangan makanan dalam jumlah banyak, akan menggembung atau membengkak sehingga
membentuk umbi.
B. Kandungan Unsur
- Unsur Bahan
Di dalam daging umbi singkong terkandung dua jenis unsure, yaitu unsure gizi
yang bermanfaat bagi kesehatan dan unsure pengganggu ( HCN atau asam sianida )
yang bersifat racun dan mempengaruhi rasa singkong.
1. Kandungan Unsur Gizi
Singkong kurang memenuhi syarat untuk dimanfaatkan sebagai makanan pokok (
pengganti ) karena kadar unsur gizi yang terkandung di dalamnya sangat kecil,
seperti terlihat pada table berikut :
|
No.
|
Nama Unsur
|
Kadar Gizi/ 100 gr Bahan
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
|
Energi
Karbohidrat
Protein
Lemak
Mineral
Zat besi
Kalsium
Fosfor
Vitamin C
Vitamin B
Air
|
146 kal
34,7 gr
1,2 gr
0,3 gr
1,3 gr
0,0007 mg
0,003 mg
0,004 mg
0,003 mg
0,006 mg
62,5
gr
|
KERUSAKAN BAHAN MAKANAN
A. Kerusakan Biologi dan
Mikrobiologi
Seperti telah diketahui, bahwa mikroba perusak bahan
pangan adalah bakteri, kapang, dan khamir. Faktor - faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ketiga jenis mikroba tersebut berbeda satu sama lain,
diantaranya adalah :
aktivitas air ( aw )
bahan pangan.
suhu penyimpanan dan suhu
pengolahan.
ketersediaan oksigen.
PH bahan dan
kandungan zat gizi bahan
pangan
Masing - masing jenis mikroba tersebut memiliki kondisi optimum spesifik bagi
pertumbuhannya. Walaupun virus sangat erat kaitannya dengan sanitasi makanan,
akan tetapi virus tidak dapat berkembang pada bahan pangan yang telah diproses.
Virus lebih merupakan jasad renik yang tumbuh dan berkembang pada makhluk
hidup. Karena itu virus tidak dibicarakan dalam penyimpanan.
Aw bahan pangan adalah air bebas yang terkandung dalam bahan
pangan, yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya. Dibandingkan
dengan bakteri, maka kapang adalah mikroba yang paling tahan terhadap
kekeringan. Dengan demikian, bahan pangan kering atau bahan pangan berkadar air
relatif rendah. Bakteri pembentuk spora, seperti Bacillus sp
danClostridium sp perlu pengendalian aw yang lebih
ketat selama penyimpanan bahan pangan. Hal ini karena spora dapat mulai
bergerminasi pada aw yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri
itu sendiri.
Kerusakan mikrobiologis seringkali disertai dengan produksi racun yang
berbahaya bagi kesehatan manusia. Selain bahaya racun, pertumbuhan seperti
kapang akan mengakibatkan penurunanya tumbuh benih yang disimpan, penurunan
mutu gizi, dan dapat pula menyebabkan penyusutan kuantitatif ( kehilangan
jumlah atau bobot hasil pertanian, akibat penanganan pasca panen yang tidak
memadai, dan juga karena adanya gangguan biologi ), karena bahan - bahan yang
telah rusak oleh mikroba dapat menjadi sumber kontaminasi bagi bahan lain yang
masih segar.
Kerusakan karena serangga, tikus dan burung lebih banyak menyebabkan penyusutan
kuantitatif. serangga dan binatang pengerat dapat menyerang bahan pangan baik
di lapangan maupun di gudang. Hama tikus dapat menyebabkan penyusuutan
kualitatif (kerusak yang terjadi akibat perubahan - perubahan biologi, fisik,
kimia maupun biokimia ), karena kotoran, rambut dan urine tikus merupakan media
yang baik untuk pertumbuhan mikroba, serta menimbulkan bau yang tidak enak.
Proses fisiologis dari berbagai hasil pertanian dapat menyebabkan keruusakan
kualitatif dan kuantitatif. Secara kuantitatif kerusakan fisiologis karena
respirasi dapt dinyatakan dengan susut bahan kering. Kerusakan jenis ini sangat
erat hubungannya dengan kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan tekanan
udara. Komposisi atmosfir pun akan mempengaruhi kerusakan bahan pangan.
B. Kerusakan Fisik
dan Mekanik
Bahan pangan hasil pertanian akan mengalami perubahan fisik setelah dipanen,
sebagai akibat dari pengaruh luar dan pengaruh dari dalam bahan pangan itu
sendiri.
Yang dimaksud dengan pengaruh luar, yaitu karena faktor - factor mekanis,
seperti tekanan fisik ( dropping atau jatuhan, shunting atau
gesekan ) dan juga adanya vibrasi atau getaran, benturan antara bahan dan alat
atau wadah selama perjalanan dan distribusi. Kerusakan fisik yang disebabkan
oleh pengaruh luar yang lain adalah serangan serangga selama penyimpanan.
Penggunaan suhu yang terlalu tinggi dalam pengolahan bahan pangan menyebabkan
warna, tekstur dan penampakan yang menyimpang, dan akan menurunkan mutu
organoleptis dan mutu gizinya seperti berkurangnya kandungan vitamin.
Pengaruh dari dalam sini termasuk adanya reaksi - reaksi enzimatis sehingga
berpengaruh terhadap warna bahan, perubahan kekentalan bahan pangan, serta
tekstur bahan pangan.
C. Kerusakan
Kimiawi
Perubahan kimiawi mencakup terjadinya reaksi pencoklatan, baik enzimatis maupun
non - enzimatis, terjadinya proses ketengikan baik oksidatif maupun hidrolisis,
yang akan menyebabkan penurunan mutu, baik mutu organoleptis maupun mutu
gizinya.
D. Perubahan Komposisi
Selama Penyimpanan
1. Respirasi
Suhu
tinggi akan mempercepat respirasi
Kadar air
tinggi akan mempercepat respirasi
2. Perubahan
Karbohidrat
Terbentuknya
bau asam dan apek dari karbohidrat karena kegiatan mikro organisme
3. Perubahan
Protein
Nitrogen
total tidak mengalami perubahan akan tetapi nitrogen dalam protein menurun.
Manfaat Daun Singkong dan Zat
yang Terkandung di dalamnya
Manfaat Daun Singkong
Bagi Kesehatan
Tanaman singkong (Manihot
utilissima) selain dimanfaatkan daunnya, juga dimanfaatkan umbinya. Secara
umum, sayuran hijau memiliki kandungan gizi alami yang bermanfaat untuk tubuh
kita. Sayuran hijau banyak mengandung zat gizi, antara lain :
1. Vitamin A dan Vitamin C
2. Mineral seperti zat kapur, zat besi, magnesium
dan fosfor
3. Karitenoid untuk memerangi radikal bebas
4. Klorofil (zat hijau daun) untuk merangsang pembentukan
sel darah merah dan sebagai pembersih alami (detoksifikasi) yang akan
menetralkan radikal bebas sehingga dapat sebagai anti kanker dan anti penuaan
5. Enzim protease sebagai anti kanker ( terutama
kanker pada usus)
6. Vit K dapat membantu pembentukan tulang, mencegah
pembentukan batu ginjal dan penting dalam proses pembekuan darah
7. Seratnya bermanfaat untuk melancarkan fungsi saluran
cerna sehingga makanan dan sisa – sisa olahan tubuh yang tidak berguna dapat
segera dikeluarkan.
dirangkum dari :
http: //www.hd.co.id/info-kesehatan/manfaat-sayuran-hijau
Daun singkong banyak
mengandung :
1. Protein
2. Fosfor
3. Hidrat arang
4. Zat besi
5. Vitamin A, B1, dan vit C
6. Tannin dan fitofarmaka yang baik untuk menjaga daya
tahan tubuh
Olahan lain dari singkong
Kamis, 31
Oktober 2013
·
olahan
|
Combro
|
Combro
Bahan :
1 1/2 kg Singkong yang cukup tua, dan mempur
(istilah orang jawa yg mengatakan singkong tsb bagus & enak u/ di
konsumsi), di parut halus
1/2 butir Kelapa yang sedang (tidak terlalu tua), parut halus
Garam
Minyak untuk menggoreng.
1 1/2 kg Singkong yang cukup tua, dan mempur
(istilah orang jawa yg mengatakan singkong tsb bagus & enak u/ di
konsumsi), di parut halus
1/2 butir Kelapa yang sedang (tidak terlalu tua), parut halus
Garam
Minyak untuk menggoreng.
Untuk Isi :
1 kotak (uk. 20 cm x 10 cm) Oncom yang bagus, haluskan.
Bawang putih secukupnya
garam secukupnya
Ketumbar secukupnya
Cabe rawit bila suka pedas
Bumbu penyedap
Daun bawang rajang halus
1 kotak (uk. 20 cm x 10 cm) Oncom yang bagus, haluskan.
Bawang putih secukupnya
garam secukupnya
Ketumbar secukupnya
Cabe rawit bila suka pedas
Bumbu penyedap
Daun bawang rajang halus
Cara Pengolahan :
Bahan2 isi semua dihaluskan dijadikan satu adonan. Klw
perlu cicipin, rasanya sudah OK or belum. Singkong yg telah diparut
dicampur dgn kelapa parut & garam Buat bulatan2 lonjong masukan bahan2
untuk isinya Tutup menjadi bulatan lonjong, atau dapat dibentuk sesuai
selera Pipihkan sedikit sehingga bentuk combro agak sedikit pipih/gepeng
Setelah semua adonan dibentuk, goreng dengan minyak panas Angkat setelah agak
kuning kecoklatan Hidangkan selagi panas, dengan cabe rawit bila suka
o
Misro
|
misro
|
Misro memiliki
bahan pembungkus yang sama dengan Combro. Cara membuatnya juga sama.
Hanya isinya saja yang berbeda. Jika Combro memakai oncom sebagai bahan isian,
Misro cukup menggunakan gula merah yang diiris tipis sebagai isian. Bila Anda
menyukai rasa yang manis, Anda bisa mengganti 50 gram gula merah dengan 50 gram
gula pasir.
o
Singkong Keju
|
singkong keju
|
BAHAN:
* 1 kg singkong
* minyak goreng
* bubuk perasa buat french fries
* susu kental manis
* keju cheddar
* 2 sdt garam
* 1 lt air
* 1 kg singkong
* minyak goreng
* bubuk perasa buat french fries
* susu kental manis
* keju cheddar
* 2 sdt garam
* 1 lt air
CARA MEMBUAT:
*
Kupas singkong, potong-potong melintang, cuci, tiriskan.
* Larutkan
garam dengan air dalam sebuah wadah cekung.
* Goreng singkong hingga matang tapi masih
pucat, angkat, langsung masukkan ke larutan air garam, biarkan 5 menit.
* Bila singkong sudah mekar, angkat dari air
garam, goreng kembali hingga kekuningan.
* Selagi masih hangat, taburi susu kental manis, bubuk
perasafrench fries, dan parutan keju cheddar.
* Sajikan.
TIPS & TRIK:
* Saat menggoreng singkong, gunakan api besar dan
minyak harus banyak. Gunakan teknik deep frying, jadi singkong tidak
perlu dibolak-balik, khususnya saat penggorengan kedua, daripada hancur.
o
Gethuk
Gethuk singkong adalah getuk klasik, yang
berbahan utamasingkong atau cassava, cara pembuatannya sebagai
berikut.
Bahan:
§
|
gethuk
|
§
500 grsingkong, kupas
§
125 gram gula pasir
§
1/4 sdm garam
Pelengkap:
§
1/2 kepala muda,
parut panjang
§
1/4 sdt garam
§
1 lbr daun pandan
§
50 gr gula pasir
Cara membuat:
·
Kukus singkong dalam
dandang yang telah dipanaskan hingga matang, angkat.
·
Keluarkan dari
dandang, haluskan, campurkan gula pasir dan garam, aduk rata.
·
Taruh di loyang yang
dialas daun pisang, tipiskan hingga 1 1/2 cm, dinginkan, potong (2 x 2) cm.
·
Campur kelapa muda
dengan garam hingga rata, tambahkan daum pandan, kukus hingga matang.
·
Sajikan
gethuk singkong dengan kelapa muda dan gula pasir.
o Keripik singkong balado
|
kripik kingkong
|
Siapa
sih yang tidak suka camilan yang satu ini. Keripik Singkongmerupakan
camilan yang sudah pasti banyak dinikmati di dalam maupun luar negri.
Keripik singkong bisa diolah menjadi berbagai rasa yang menggugah
selera, salah satunya adalah Keripik Singkong Balado.
Rasa pedasnya kadang membuat kita jadi ketagihan.
Resep Bahan Keripik Singkong Balado :
·
500
gram singkong, diiris tipis
·
1 sendok teh air
kapur sirih
·
1 sendok teh garam
·
750 ml air
Resep Bahan Balado Keripik Singkong Balado :
·
5 butir bawang merah,
ditumbuk kasar
·
5 buah cabai merah
besar, ditumbuk kasar
·
5 buah cabai merah
keriting, ditumbuk kasar
·
2 lembar daun salam
·
1 sendok teh garam
·
50 gram gula pasir
·
1 sendok makan air
asam jawa (dari 1/2 sendok teh asam jawa dan 2 sendok makan air, dilarutkan)
·
3 sendok makan minyak
untuk menumis
·
minyak untuk
menggoreng
Cara Membuat Keripik Singkong Balado :
1.
Rendam singkong dalam
larutan air kapur sirih, garam, dan air. Diamkan 15 menit. Cuci bersih.
2.
Tiriskan singkong.
Goreng dalam minyak panas sedang sampai matang dan kering.
3.
Tumis bawang merah,
cabai merah besar, cabai merah keriting, dan daun salam sampai harum.
4.
Masukkan garam, gula
pasir, dan air asam jawa. Aduk sampai kental.
5.
Tambahkan singkong goreng.
Aduk sampai terbalut rata.
o
Colenak
|
colenak
|
Rekomendasi :
Jajanan khas Bandung. Berbahan dasar tape atau di
Bandung lebih dikenal dengan peuyeum. Musim hujan begini, dingin-dingin
ditemani colenak yang hangat, hmm... Dengan saus kelapa parut yang manis,
menjadikan colenak ini sebagai makanan favorit.
Belanja dulu yukz :
·
1/2 kg tape/peuyeum
Bandung
·
1/2 butir kelapa,
diparut halus
·
2 biji gula merah
·
air secukupnya
·
mentega secukupnya,
untuk olesan saat pemanggangan
Sekarang ke dapur yukz :
1.
Pertama kita cairkan
dulu gula merah dengan cara direbus dengan air. Lalu saring.
2.
Rebus kembali gula
merah yang sudah dicairkan tadi dengan kelapa parut. Tambahkan air jika terlalu
kental.
3.
Masak hingga matang.
Biarkan dingin.
4.
Sekarang
masing-masing tape/peuyeum dipotong-potong menjadi 3 bagian.
5.
Siapkan alat
pemanggangan, sebaiknya gunakan wajan yang berbentuk datar.
6.
Panggang tape/peuyeum
di atas api kecil dengan cara ditekan hingga menjadi rata (bahasa
Medannya--sampai penyet :D). Olesi dengan mentega di kedua permukaannya dan
panggang hingga agak kecokelatan.
7.
Sajikan hangat
bersama saus kelapa tadi.
Tips :
- Pilihlah peuyeum yang sudah benar-benar matang dan manis rasanya.
Pesan : sebelum makan baca do'a dulu ya.....
- Pilihlah peuyeum yang sudah benar-benar matang dan manis rasanya.
Pesan : sebelum makan baca do'a dulu ya.....
o
Tape
|
tape
|
Seumur-umur, tape yang paling enak yang pernah aku
rasakan ya tape bondowoso, selain rasanya yang manis, aroma wanginya juga
menggugah selera. mari gan kita coba membuatnya:
1. Pilihlah singkong yang bagus dan rata,
kemudian dikupas, dipotong- potong sesuai selera dan dicuci bersih.
2. Kemudian potongan singkong tersebut direbus sampai matang kemudian ditiriskan.
3. Tunggu singkong tersebut sampai dingin, bias juga pakai kipas angin.
4. Sediakan ragi tape yang bias dibeli di took obat makanan, kemudian ditumbuk halus dan diayak pakai ayakan atau saringan.
5. Taburkan ragi halus ke singkong-singkong yang sudah dingin sampai rata.
6. Sediakan tempat untuk menyimpan singkong yang sudah ditaburi ragi tersebut, bias memakaiplastic ataupun memakai daun pising atau daun jati.
7. Peram bungkusan singkong tersebut kurang lebih 3 hari
8. Setelah 3 hari bukalah bungkusan singkong tersebut, dan tape singkong siap dinikmati.
o Peuyeum
- Kupas singkong dari kulitnya kemudian cuci
bersih dan tiriskan.
|
peuyeumpuan
|
- Siapkan dandang kukus dalam keadaan panas,lalu
kukus singkong sampai matang dan empuk.Kemudian
keluarkansingkong kukus dari dandang dan biarkan hingga dingin.
- Setelah dingin lumuri seluruh
permukaansingkong kukus dengan ragi,lalu simpan dalam wadah kedap
udara selama 1 malam.
- Setelah disimpan 1 malam, kemudian
ikat singkong beragi satu per satu dengan menggunakan tali,lalu
simpan kembali dengan posisi tergantung pada suhu ruang selama 2 malam.
-
peuyeumpuan siap dinikmati.
MENGEBOR
MINYAK DILADANG SINGKONG
o
Bioethanol
1. Kupas 125
kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan
cacah berukuran kecil-kecil.
2.
Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%.
Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih
awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku
3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam
tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan
air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100"C selama
0,5 jam. Aduk rebusangaplek sampai menjadi bubur dan mengental.
4. Dinginkan bubur gaplek, lalu
masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian
pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang
akanmemecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur
pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau
10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum
digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah
dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek.
Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati
5.Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan
gula. Aduk kembali pati yang sudah
menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum
difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar
gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup
dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi,
tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan
larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
6 Tutup rapat tangki fermentasi
untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai
glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan
oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32"C dan pH 4,5—5,5.
7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan
terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi
itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol
8.Sedot larutan etanol dengan
selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan
protein.
9. Meski telah disaring, etanol
masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan.
Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78"C atau setara titik didih
etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik
didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga
terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
10 Hasil penyulingan berupa 95%
etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol
berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi
absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air
menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya
berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga
diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%,
membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek
Tidak ada komentar:
Posting Komentar