Rabu, 28 Desember 2016



BUDIDAYA UBI KAYU
SYARAT TUMBUH
Sebetulnya tanaman ubi kayu dapat ditanam di mana saja, namun akan lebih baik jika ditanam pada daerah yang sesuai dengan habitatnya atau keinginannya untuk tumbuh baik.  Secara umum syarat tumbuh tanaman ubi kayu yang optimal adalah sebagai berikut :

a)   Curah hujan, tanaman ubi kayu dapat tumbuh dengan baik apabila curah hujan cukup, tetapi tanaman ini juga dapat tumbuh pada curah hujan rendah (< 500 mm), ataupun tinggi (5000 mm). Curah hujan optimum untuk ubi kayu berkisar antara 760-1015 mm per tahun.
Curah hujan terlalu tinggi mengakibatkan terjadinya serangan jamur dan bakteri pada batang, daun dan umbi apabila drainase kurang baik.

b)   Suhu udara, tanaman ubi kayu menghendaki suhu antara 18o-35oC. Pada suhu di bawah 10oC pertumbuhan tanaman ubi kayu akan terhambat.

c)   Kelembaban udara optimal untuk tanaman ubi kayu antara 60-65%.

d)   Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ubi kayu sekitar 10 jam/hari, terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

e)   Ketinggian tempat yang baik dan ideal adalah 10 – 700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10 – 1.500 m dpl.

f)   Tanah, Ubi kayu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Pada daerah di mana jagung dan padi tumbuh kurang baik, ubi kayu masih dapat tumbuh dengan baik dan mampu berproduksi tinggi apabila ditanam dan dipupuk tepat pada waktunya. Sebagian besar pertanaman ubi kayu terdapat di daerah dengan jenis tanah Aluvial, Latosol, Podsolik dan sebagian kecil terdapat di daerah dengan jenis tanah Mediteran, Grumusol dan Andosol. Tanaman ubi kayu memerlukan struktur tanah yang gembur untuk pembentukan dan perkembangan umbi. Pada tanah yang berat, perlu ditambahkan pupuk organik

h)   Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netrai bagi pertumbuhan tanaman ketela pohon.

BUDIDAYA UBI KAYU

Persyaratan dan Penyiapan Bibit
Tanaman ubi kayu biasanya diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Namun, tanaman ini juga dapat diperbanyak dengan menumbuhkan bijinya. Cara ini hanya digunakan untuk tujuan pemuliaan tanaman, bukan untuk budidaya, karena membutuhkan proses dan waktu yang lama. Keuntungan melakukan perbanyakan tanaman dengan menggunakan stek adalah
waktunya lebih cepat dan hasilnya pun akan sama dengan tanaman induknya.

Syarat bibit yang baik untuk bertanam singkong adalah sebagai berikut :
a)     Bibit berasal dari tanaman induk yang cukup tua (8-12 bulan), dan stek diambil dari batang bagian tengah tanaman ubi kayu.
b)     Pertumbuhan induk harus normal, sehat, serta seragam.
c)     Batangnya telah berkayu dan berdiameter > 5 cm, dan lurus.
d)     Belum tumbuh tunas-tunas baru.
e)     Batang dapat digunakan sebagai stek apabila masa penyimpanannya kurang dari 30 hari setelah panen. Pada beberapa kultivar, seperti Rayong 3 dan Rayong 90, masa simpan stek selama 15 hari setelah panen.
f)     Penyimpanan stek yang baik adalah dengan cara posisi batang tegak, disimpan di bawah naungan.
g)    Panjang stek optimum adalah 20-25 cm, dengan jumlah mata tunas paling sedikit 10 mata.
h)    Sebelum tanam, stek dapat diperlakukan dengan insektisida dan fungisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit

Setelah dipilih batang dari pohon induk yang memenuhi syarat, kemudian dilakukan penyiapan bibit.
Tahapan penyiapan bibit  ubi kayu meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)     Bibit berupa stek batang dengan panjang sekitar 20 cm atau memiliki 4 mata.
b)     Pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c)     Stek yang terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25-50 batang stek.
d)     Semua ikatan stek yang dibutuhkan kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

Hal penting yang harus diperhatikan pada saat penyiapan bibit ini adalah bahwa :
–    Ukuran panjang bibit harus seragam, agar pertumbuhannya pun seragam.
–    Alat pemotong  yang digunakan untuk memotong-motong batang singkong calon bibit harus tajam, sehingga memungkinkan satu kali tebasan cukup untuk memotong batang singkong.  Mengapa harus tajam ?  karena apabila kurang tajam dikhawatirkan pemotongan yang berulang-ulang pada calon stek batang akan mengakibatkan luka yang berlebihan, sehingga merusak calon bibit. Adanya luka memungkinkan terjadinya serangan patogen yang menyebabkan penyakit.

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan  :
–    untuk memperbaiki kondisi tanah yang tadinya padat menjadi lebih gembur,
–    membersihkan kebun yang akan ditanami dari gulma,
–    sebagai bagian dari kegiatan sanitasi atau kebersihan lingkungan, sehingga tempat hidupnya sumber-sumber penyakit dan hama dapat dibersihkan.
 Pengolahan tanah berdasarkan jenis tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu:
1.  Tanah ringan atau gembur : tanah cukup dibajak atau dicangkul satu kali, kemudian diratakan dan dapat langsung ditanami.
2.  Tanah agak berat : tanah dibajak atau dicangkul 1-2 kali, kemudian diratakan dan dibuat bedengan atau guludan, untuk selanjutnya ditanami.
3.  Tanah berat dan berair: tanah dibajak atau dicangkul sebanyak dua kali atau lebih, kemudian dibuat bedengan atau guludan sekaligus sebagai saluran drainase, penanaman dilakukan di atas guludan.
 Pada lahan miring atau peka terhadap erosi, penolahan tanah harus dikelola dengan sistem konservasi, yaitu:
1.   Tanpa olah tanah.
2.   Pengolahan tanah minimal adalah pengolahan tanah secara larik atau individual.
Pengolahan tanah ini efektif untuk mengendalikan erosi, tetapi hasil ubi kayu pada umumnya rendah.
3.   Pengolahan tanah sempurna dengan sistem guludan kontur. Pengolahan tanah sempurna didasarkan pada pencapaian hasil yang tinggi, biaya pengolahan tanah dan pengendalian gulma rendah serta tingkat erosi minimal. Dalam hal ini tanah dibajak dengan traktor 3-7 singkal piring atau secara tradisional (dengan ternak) sebanyak 2 kali atau satu kali yang diikuti dengan pembuatan guludan. Untuk lahan peka erosi, guludan juga berperan sebagai pengendali erosi, sehinggaguludan dibuat searah kontur Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul atau bajak. Untuk areal yang luas, sebaiknya digunakan traktor. Setelah tanah diolah dan dibersihkan, selanjutnya dibuat bedengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pemupukan dan penyiangan. Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCOS). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

Penanaman
1.   Penentuan Pola Tanam
Pola tanam adalah sistem penanaman dalam berusaha tani.
–   Pola tanam monokultur
Jarak tanam yang digunakan dalam pola monokultur ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1.   1 m x 1 m (10.000 tanaman/ha),
2.   1 m x 0,8 m (12.500 tanaman/ha),
3.   1 m x 0,75 m (13.333 tanaman/ha),
4.   1 m x 0,5 m (20.000 tanaman/ha),
5.    0,8 m x 0,7 m (17.850 tanaman/ha), dan
6.    1 m x 0,7 m (14.285 tanaman/ha).

Pemilihan jarak tanam ini tergantung dari jenis varietas yang digunakan dan tingkat kesuburan tanah. Untuk tanah-tanah yang subur digunakan jarak tanam 1 m x 1 m; 1 m x 0,8 m; 1 m x 0,75 m maupun 1 m x 0,7 m.
Sedangkan untuk tanah-tanah miskin digunakan jarak tanam rapat yaitu
1 m x 0,5 m, 0,8 m x 0,7 m.
–   Pola tanam tumpang sari
Pola tumpangsari dilakukan dengan mengatur jarak tanam ubi kayu sedemikian rupa sehingga ruang diantara barisan ubi kayu dapat ditanami dengan tanaman lain (kacang-kacangan, jagung maupun padi gogo). Pengaturan jarak tanam ubi kayu diistilahkan dengan double row (baris ganda). Ada beberapa pengaturan baris ganda pada ubi kayu,
diantaranya adalah :
1.  Jarak tanam baris ganda 2,6 m
Pada baris ganda 2,6 m ini, tanaman ubi kayu ditanam dengan jarak tanam 0,6 m x 0,7 m x 2,6 m. Dimana 0,6 m merupakan jarak antar barisan dan 0,7 m merupakan jarak di dalam barisan, sedangkan 2,6 m merupakan jarak antar baris ganda ubi kayu.
Pada jarak antar baris ganda ubi kayu ini dapat ditanami dengan tanaman jagung, padi gogo, kedelai, kacang tanah maupun kacang hijau.
2.  Jarak tanam baris ganda 0,5 m x 1 m x 2 m
Diantara baris tanaman ubi kayu yang berjarak 2 m dapat ditanami dengan tanaman jagung, padi gogo, kedelai, kacang tanah maupun kacang hijau.
3.  Jarak tanam baris ganda 0,5 m x 0,5 m x 4 m.
Diantara baris tanaman ubi kayu yang berjarak 4 m tersebut dapat ditanami dengan tanaman jagung, padi gogo, kedelai, kacang tanah maupun kacang hijau.

2.  Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung atas stek ubi kayu untuk menghindari tergenangnya air di batang agar tidak terjadi pembusukkan atau menghindari patogen penyakit yang biasanya menyukai tempat-tempat  yang lembab.  Stek batang kemudian ditanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja. Lakukan pemberian pupuk pada saat penanaman.  Pupuk yang digunakan sebagai pupuk dasar ini biasanya adalah pupuk kandang.  Pupuk diberikan di sekeliling tanaman dengan diameter sekitar 100 cm. Tanah disekeliling tanaman digali atau dibuat parit kecil.   Kemudian pupuk
ditaburkan  ke dalam parit tersebut. Setelah itu ditutup dengan tanah dari bekas galian tadi. 

Pemeliharaan Tanaman
1.   Penyulaman
Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit yang mati atau tumbuh tidak normal, dengan bibit yang baru/cadangan. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas agar tanaman yang disulamkan tidak layu.  Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. Penyulaman yang dilakukan pada minggu ketiga atau dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak seragam.

2.   Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan membuang gulma yang tumbuh di areal pertanaman ubi kayu. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.  Alat yang digunakan dalam penyiangan ini dapat berupa cangkul, kored atau parang, sambil menggemburkan kembali tanah. Penyiangan harus dilakukan  hati-hati, jangan sampai alat yang kita gunakan melukai tanaman ubi kayu.

3.  Pembumbunan
Cara pembumbunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembumbunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Sama halnya dengan penyiangan, pembumbunan penting dilakukan terutama agar umbi yang terbentuk dalam tanah menjadi besar-besar. Jadi pembumbunan ini memberikan keleluasaan pada akar agar dapat tumbuh dan berkembang  membentuk umbi dengan baik.

4.   Perempelan/Pemangkasan
Pada budidaya tanaman ubi kayu perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas, karena minimal setiap pohon hanya mempunyai dua atau tiga cabang. Hal ini dilakukan agar batang ubi kayu tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang. Selain itu, konsentrasi pertumbuhan tanaman ubi kayu akan lebih mengarah pada pembentukan umbi, bukan daun. Kecuali dalam pembudidayaan  dengan tujuan untuk dipetik tunasnya.

5.   Pemupukan
Untuk mencapai hasil yang tinggi perlu diberikan pupuk organik ( pupuk kandang, kompos dan pupuk hijau ) dan pupuk anorganik ( Urea, TSP, KCL ). Pupuk organik sebaiknya diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah. Volume pupuk organik yang baik untuk 1 hektar tanaman ubi kayu minimal sebanyak 6 ton.
Tujuan utama pemberian pupuk ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah. Pupuk anorganik diberikan tergantung tingkat kesuburan tanah. Pada umumnya dosis pupuk anjuran untuk tanaman ubi kayu adalah :
–    Urea dengan dosis  133 – 200 kg/ ha,
–    SP-36 dengan dosis 60 – 100 kg/ ha,
–    KCl dengan dosis 120 – 200 kg/ ha
Cara pemberian pupuk adalah:
a.    Pupuk dasar  :
1/3 bagian dosis Urea dan KCl, serta seluruh dosis SP-36 diberikan pada saat tanam.
b.    Pupuk susulan :
2/3 bagian dari dosis Urea dan KCl diberikan pada saat tanaman berumur 3 – 4 bulan.

6.   Pengairan dan Penyiraman
Kondisi lahan singkong dari awal tanam sampai umur lebih dari empat atau lima bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung, akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang paling baik digunakan adalah sistem genangan, sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

7.   Pengendalian Hama dan Penyakit
Hingga saat ini belum ditemukan penyakit yang berarti bagi tanaman ubi kayu dengan menggunakan varietas unggul, seperti Darul Hidayah. Namun demikian, guna mencegah kemungkinan bila terdapat hama dan penyakit pada tanaman ubi kayu maka di bawah ini terdapat beberapa hama dan penyakit untuk diketahui.
 Hama
a)     Uret (Xylenthropus)
Ciri  : berada dalam akar dari tanaman.
Gejala : tanaman mati pada usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.
Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.
b)   Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
Ciri :   menyerang   pada   permukaan   bawah   daun   dengan menghisap cairan daun tersebut.
Gejala : daun akan menjadi kering.
Pengendalian : menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

Penyakit
a)   Bercak daun bakteri
Penyebab  : Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG.
Gejala :  bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
Pengendalian : menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun. 
b)   Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
Ciri : hidup di daun, akar, dan batang.
Gejala : daun mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang, dan umbi langsung membusuk.
Pengendalian :   melakukan   pergiliran   tanaman,   menanam varietas yang tahan seperti Adira  1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.
c)   Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab : cendawan yang hidup di dalam daun.
Gejala : daun bercak-bercak coklat, mengering, terdapat lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati.
Pengendalian : melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
d)   Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)
Penyebab : cendawan yang hidup pada daun.
Gejala : adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.
Pengendalian : memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit.

8.   PANEN
Ubi kayu dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang, warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ubi kayu adalah 6-8 bulan untuk varietas genjah dan 9-12 bulan untuk varietas dalam.
Ubi kayu dipanen dengan cara menggunakan pengungkit atau mencabut batangnya secara langsung. Umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.




Penanganan Pasca Panen

Faktor-faktor yang mempengaruhi penanganan pascapanen umbian adalah sebagai berikut:

1.    Umur tanaman saat panen
2.    Musim saat panen (hujan atau kemarau)
3.    Cara panen
4.    Cara pengangkutan
5.    Cara pengeringan


Tahapan Penanganan Pasca Panen hasil pertanian
a.        Pemanenan
Untuk menentukan saat panen yang tepat diperlukan petunjuk untuk mengetahui waktu pemanenan komoditi hasil pertanian. Penentuan waktu panen hasil pertanian yang siap di panen dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
  Visual : melihat warna kulit, ukuran, masih adanya sisa tangkai putik, adanya dedaunan tua di bagian luar yang kering dan penuhnya buah
  Fisik : mudahnya buah terlepas dari tangkai / adanya tanda merekah, ketegaran dan berat jenis
  Analisis Kimia : mengukur kandungan zat padat, asam, perbanding zat padat dengan asam dan kandungan zat pati.
  Perhitungan jumlah hari setelah bunga mekar dalam hubungannya dengan tanggal berbunga dan unit panas.
  Metoda Fisiologis : pengukuran pola respirasi (perbandingan antara CO2 dan O2).
Pada pemanenan hasil pertanian harus dilakukan secara hati - hati jangan sampai terjatuh, tergores, memar, dan sebagainya, karena luka yang disebabkan oleh hal tersebut akan menyebabkan terjadinya pembusukan akibat peningkatan laju respirasi.
Untuk menghidari kerusakan hasil pertanian pada saat pemanenan perlu diperhatikan hal - hal berikut :
  Jangan sampai hasil pertanian hasil panen terjatuh
  Gunakan alat panen (gunting, pisau yang tajam
  Wadah / Keranjang penampung hasil panen harus kuat, permukaan bagian dalamnya halus dan mudah dibersihkan.

b.      Pengumpulan
Lokasi pengumpulan/penampungan harus didekatkan dengan tempat pemanenan agar tidak terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat pengangkutan dari dan ke tempat penampungan yang teralu lama/jauh.
Perlakuan/tindakan penanganan dan spesifikasi wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristik komoditi yang ditangani.
c.       Sortasi
Hasil pertanian setelah dipanen perlu dilakukan sortasi dan pembersihan, dengan cara memisahkan hasil pertanian yang berkualitas kurang baik (cacat, luka, busuk dan bentuknya tidak normal) dari hasil pertanian yang berkualitas baik. Pada proses sortasi ini dapat sekaligus dilakukan proses pembersihan (membuang bagian  bagian yang tidak diperlukan). Pembersihan dapat dilakukan dengan pisau / parang.
Selama sortasi harus diusahakan agar terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
d.        Pembersihan / Pencucian
Untuk menghindari kerusakan yang tinggi pada hasil pertanian, sebaiknya segera dilakukan pencucian agar hasil pertanian terbebas dari kotoran, hama dan penyakit. Pencucian menggunakan air bersih yang mengalir untuk menghindari kontaminasi.
Pencucian dengan air juga berfungsi sebagai pre-cooling untuk mengatasi kelebihan panas yang dikeluarkan produk saat proses pemanenan. Pencucian hasil pertanian dapat menggunakan alat seperti sikat yang lunak.
Hasil pertanian yang telah dicuci selanjutnya ditiriskan agar terbebas dari sisa air yang mungkin masih melekat dan ditempatkan pada tempat tertentu. Untuk mempercepat penirisan dibantu dengan kipas angin.
e.       Grading
Setelah sortasi dan pembersihan selesai, selanjutnya dilakukan penggolongan / pengkelasan (grading). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pertanian yang bermutu baik dan seragam dalam satu golongan / kelas yang sama sesuai standar mutu yang telah ditetapkan atau atas permintaan konsumen.
Penggolongan / pengkelasan dilakukan berdasarkan berat, besar, bentuk / rupa, warna dan bebas dari penyakit dan cacat lainnya.
Grading dapat dilakukan di tempat panen / tempat pengumpulan. Untuk memudahkan pekerjaan penggolongan di tempat pengumpulan, sebaiknya menggunakan meja yang bertepi. Pada tempat tersebut dilengkapi pula dengan peralatan lainnya, misal timbangan, alat pencuci, alat penirisan / pengeringan, dll.
Selama grading harus diusahakan terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
B.      Metode atau Cara Penyimpanan
     Cara penyimpanan singkong segar telah banyak diteliti dan dipraktekkan. Tanpa perlakuan khusus singkong segar hanya tahan sekitar 48 jam. Cara - cara penyimpanan singkong segar adalah sebagai berikut :
1.      Singkong segar dipotong sepanjang 5 cm pada tangkainya. Diangin - anginkan supaya getahnya kering. Singkong - singkong tersebut lalu diatur berjejer rapat dalam bak batu bata yang ditumpuk tanpa menggunakan semen dan dasarnya sudah ditutup pasir kering setebal 5 cm. Bak batu bata berukuran 1,0 m x 1,0 m x 1,0 m. Jejeran singkong tersebut ditutup lagi dengan pasir setinggi 5 cm, begitu seterusnya sampai pasir terakhir berjarak 10 cm dari tepi bahan. Setelah itu di atas pasir ditutup lagi dengan batu bata dan yang terakhir ditutup seng. Pada penyimpanan seperti ini, bak batu bata harus didirikan pada tempat yang aman serta tidak terkena air hujan. singkong segar dapat tahan 1 - 2 bulan.
2.      Singkong segar dalam keadaan utuh ditumpuk di atas lapisan jerami, rumput atau daun - daun kering. Diameter tumpukan jerami 1,5 m, tebalnya 15 cm. Sekitar 300 - 500 kg singkong segar ditimbun di atas alas tersebut, kemudian ditutup dengan lapisan jerami dan ditutup lagi dengan tanah hingga ketebalan 15 cm. Sekeliling timbunan dibuat saluran drainase agar tidak terendam air. Keadaan cuaca sangat mempengaruhi daya tahan singkong yang disimpan. Perlu diupayakan agar tidak terlalu basah dimusim hujan. Daya simpan singkong dengan cara ini dapat mencapai 3 bulan. ( lihat gambar di bawah ).

3.    Singkong disimpan dalam peti ( kapasitas 20 kg ) yang diisi serbuk gergaji. Kadar air serbuk gergaji dipertahankan sebesar 50 %, agar kelembabannya terkendali sehingga singkong awet. Kondisi penyimpanan terlalu kering akan cepat terjadi kerusakan fisiologis, sebaliknya bila terlalu basah menyebabkan kebusukan. Seringkali digunakan sekam padi ( pesak ) sebagai peganti serbuk gergaji. Tetapi sekam di nilai kurang baik karena daya serap dan distribusi air kurang merata. Cara penyimpanan singkong segar seperti ini, pada keadaan yang terlindung dari sinar matahari, dan suhu sekitar 26 oC dapat mempertahankan singkong segar selama satu bulan.
4.    Singkong segar yang telah dibersihkan dicelup dalam larutan fungisida thiobendazole, atau fungisida lainnya seperti Maneb dan benomyl. Kemudian dikemas dalam kantong plastik polietilen. Pengemasan ini akan membantu mengawetkan singkong dari kerusakan fisiologis, sedangkan pencelupan dalam fungisida dapat mencegah kerusakan oleh jasad renik. Perlu diperhatikan agar singkong benar - benar segar ( 2 - 3 jam setelah panen ) pada saat di kemas. Cara penyimpanan seperti ini banyak digunakan di pasar - pasar swalayan. Daya tahan singkong segar sekitar 1 - 3 bulan.  


C.      Tujuan Penyimpanan
     Penyimpanan merupakan proses untuk mempertahankan daya simpan dan mutu ubi kayu.  Tujuannya adalah untuk :
a. Mempertahankan daya simpan ubi kayu.
b. Menambah nilai ekonomis umbi ubi kayu.
c. Memudahkan pengolahan lebih lanjut.
d. Umbi ubi kayu terhindar dari kerusakan akibat busuk, jamur, dan lain-lainnya. 
D.     Tanda - Tanda Kerusakan
a.  Secara mikrobiologis
Ditandai dengan pertumbuhan kapang disertai dengan timbulnya bau dan perubahan warna.
b.  Secara biologis
Ditandai dengan adanya bekas gigita/lubang 2.
c.  Secara kimia
Disertai dengan pola pola warna kebiru-biruan, coklat serta kehitaman oleh enzim atau bukan. Penyimpanan singkong pada suhu yang cukup tinggi dapat mengakibatkan warna biru kehitaman yang disebutkepoyohan. kepoyohan dapat terjadi sampai kebagian dalam umbi, khususnya bila terjadi irisan atau pecah. Kepoyoan ini karena aktifitas enzim yang membentuk terjadinya oksidasi polifenol dan glukosida linamarin yang mengandung senyawa HCN.

f.         Pengemasan
Pengemasan berfungsi untuk melindungi / mencegah komoditi dari kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memberikan nilai tambah produk serta memperpanjang daya simpan produk, sehingga dalam pengemasan harus dilakukan dengan hati - hati agar tehindar dari suhu dan kelembaban yang ekstrim (terlalu tinggi / terlalu rendah), goncangan, getran, gesekan dan tekanan yang tinggi terhadap kemasan hasil pertanian tersebut.
  Beberapa contoh pengemasan hasil pertanian yang umum digunakan adalah :
  Keranjang : terbuat dari bambu, daun kelapa dan daun pandan. Biasanya berbentuk persegi dan bulat. Kelemahannya adalah kurang kuat sehingga tidak mampu melindungi dari tekanan. Namun, pengemas ini masih dipertahankan mengingat harganya lebih murah. Untuk mengatasi kelemahan adalah dengan memberi unsur bahan penguat pada sisinya. Untuk meminimalkan kerusakan, saat ini telah banyak digunakan keranjang plastik yang mempunyai kekuatan lebih besar, permukaan yang halus dan mudah dibersihkan sehingga dapat dipaki ulang.
  Karung : dalam bentuk karung goni, karung kertas, karung kain, karung plastik dan rajut. Umumnya penggunaan karung untuk mengepak hasil pertanian pada pengangkutan jarak dekat. Pengemasan dengan karung sebaiknya dilakukan untuk hasil pertanian yang bertekstur keras yang tidak memerlukan penyusunan hasil pertanian.
Pengangkutan hasil pertanian menuntut penanganan yang cepat dan dapat dilakukan dengan tiga cara : pengangkutan melalui jalan darat (dipikul, sepeda, pedati, kendaraan bermotor, kereta api), pengangkutan melalui laut (perahu dan kapal laut) dan pengangkutan melalui udara (pesawat udara).
Hasil pertanian akan tetap dalam kondisi prima, segar dan baik dikonsumsi oleh masyarakat bila penanganan pasca panen dilaksanakan secara baik, benar dan tepat tanpa harus melupakan peranan proses sebelum panen yang juga sangat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
Diharapkan dalam melakukan kegiatan pasca panen dapat menjamin konsistensi dalam menekan kehilangan hasil produk pada setiap rantai penanganan pasca panen dan meningkatkan mutu produk, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomis dan daya saing produk.

warjuni

ini blog saya
     Hasil panen utama dari tanaman singkong adalah umbinya. Umbi singkong merupakan tempat untuk menyimpan persediaan cadangan makanan.
Umumnya umbi singkong berbentuk bulat panjang, yang makin ke ujung ukurannya makin kecil. Pada dasarnya, umbi singkong terdiri dari 3 lapis, yaitu :
1.    Lapisan kulit luar
           merupakan lapisan yang tipis, mudah robek dan berwarna cokelat, cokelat merah atau cokelat abu - abu.
2.    Lapisan kulit dalam
           merupakan suatu lapisan kulit yang memiliki ketebalan antara 1mm - 3 mm, berwarna rose, kuning ataupun putih.
3.    Lapisan atau bagian daging
           merupakan bagian terbesar ( memilki persentase terbesar ) dari umbi singkong. Umumnya memiliki warna putih ataupun kuning.
     Sementara, sumbu ( jawa : sorot ) yang ada dibagian tengah dari lapisan daging umbi, berfungsi sebagai saluran untuk mengirimkan makanan hasil fotosintesis daun ke dalam akar. Akar yang menyimpan makanan atau cadangan makanan dalam jumlah banyak, akan menggembung atau membengkak sehingga membentuk umbi.
B.      Kandungan Unsur - Unsur Bahan
     Di dalam daging umbi singkong terkandung dua jenis unsure, yaitu unsure gizi yang bermanfaat bagi kesehatan dan unsure pengganggu ( HCN atau asam sianida ) yang bersifat racun dan mempengaruhi rasa singkong.
1.    Kandungan Unsur Gizi
           Singkong kurang memenuhi syarat untuk dimanfaatkan sebagai makanan pokok ( pengganti ) karena kadar unsur gizi yang terkandung di dalamnya sangat kecil, seperti terlihat pada table berikut :

No.
Nama Unsur
Kadar Gizi/ 100 gr Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Energi
Karbohidrat
Protein
Lemak
Mineral
Zat besi
Kalsium
Fosfor
Vitamin C
Vitamin B
Air
146        kal
34,7       gr
1,2         gr
0,3         gr
1,3         gr
0,0007  mg
0,003    mg
0,004    mg
0,003    mg
0,006    mg
62,5      gr
KERUSAKAN BAHAN MAKANAN

A.     Kerusakan Biologi dan Mikrobiologi
     Seperti telah diketahui, bahwa mikroba perusak bahan pangan adalah bakteri, kapang, dan khamir. Faktor - faktor  yang mempengaruhi pertumbuhan ketiga jenis mikroba tersebut berbeda satu sama lain, diantaranya adalah :
    aktivitas air ( a) bahan pangan.
    suhu penyimpanan dan suhu pengolahan.
    ketersediaan oksigen.
    PH bahan dan
    kandungan zat gizi bahan pangan

     Masing - masing jenis mikroba tersebut memiliki kondisi optimum spesifik bagi pertumbuhannya. Walaupun virus sangat erat kaitannya dengan sanitasi makanan, akan tetapi virus tidak dapat berkembang pada bahan pangan yang telah diproses. Virus lebih merupakan jasad renik yang tumbuh dan berkembang pada makhluk hidup. Karena itu virus tidak dibicarakan dalam penyimpanan.
     Aw bahan pangan adalah air bebas yang terkandung dalam bahan pangan, yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya. Dibandingkan dengan bakteri, maka kapang adalah mikroba yang paling tahan terhadap kekeringan. Dengan demikian, bahan pangan kering atau bahan pangan berkadar air relatif rendah. Bakteri pembentuk spora, seperti Bacillus sp danClostridium sp perlu pengendalian aw yang lebih ketat selama penyimpanan bahan pangan. Hal ini karena spora dapat mulai bergerminasi pada ayang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri itu sendiri.
                 Kerusakan mikrobiologis seringkali disertai dengan produksi racun yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Selain bahaya racun, pertumbuhan seperti kapang akan mengakibatkan penurunanya tumbuh benih yang disimpan, penurunan mutu gizi, dan dapat pula menyebabkan penyusutan kuantitatif ( kehilangan jumlah atau bobot hasil pertanian, akibat penanganan pasca panen yang tidak memadai, dan juga karena adanya gangguan biologi ), karena bahan - bahan yang telah rusak oleh mikroba dapat menjadi sumber kontaminasi bagi bahan lain yang masih segar.
     Kerusakan karena serangga, tikus dan burung lebih banyak menyebabkan penyusutan kuantitatif. serangga dan binatang pengerat dapat menyerang bahan pangan baik di lapangan maupun di gudang. Hama tikus dapat menyebabkan penyusuutan kualitatif (kerusak yang terjadi akibat perubahan - perubahan biologi, fisik, kimia maupun biokimia ), karena kotoran, rambut dan urine tikus merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba, serta menimbulkan bau yang tidak enak. Proses fisiologis dari berbagai hasil pertanian dapat menyebabkan keruusakan kualitatif dan kuantitatif. Secara kuantitatif kerusakan fisiologis karena respirasi dapt dinyatakan dengan susut bahan kering. Kerusakan jenis ini sangat erat hubungannya dengan kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan tekanan udara. Komposisi atmosfir pun akan mempengaruhi kerusakan bahan pangan.
B.      Kerusakan Fisik dan Mekanik
     Bahan pangan hasil pertanian akan mengalami perubahan fisik setelah dipanen, sebagai akibat dari pengaruh luar dan pengaruh dari dalam bahan pangan itu sendiri.
     Yang dimaksud dengan pengaruh luar, yaitu karena faktor - factor mekanis, seperti tekanan fisik ( dropping atau jatuhan, shunting atau gesekan ) dan juga adanya vibrasi atau getaran, benturan antara bahan dan alat atau wadah selama perjalanan dan distribusi. Kerusakan fisik yang disebabkan oleh pengaruh luar yang lain adalah serangan serangga selama penyimpanan. Penggunaan suhu yang terlalu tinggi dalam pengolahan bahan pangan menyebabkan warna, tekstur dan penampakan yang menyimpang, dan akan menurunkan mutu organoleptis dan mutu gizinya seperti berkurangnya kandungan vitamin.
     Pengaruh dari dalam sini termasuk adanya reaksi - reaksi enzimatis sehingga berpengaruh terhadap warna bahan, perubahan kekentalan bahan pangan, serta tekstur bahan pangan.
C.      Kerusakan Kimiawi
                 Perubahan kimiawi mencakup terjadinya reaksi pencoklatan, baik enzimatis maupun non - enzimatis, terjadinya proses ketengikan baik oksidatif maupun hidrolisis, yang akan menyebabkan penurunan mutu, baik mutu organoleptis maupun mutu gizinya.
D.     Perubahan Komposisi Selama Penyimpanan
1.      Respirasi
Suhu tinggi akan mempercepat respirasi
Kadar air tinggi akan mempercepat respirasi
2.      Perubahan Karbohidrat
Terbentuknya bau asam dan apek dari karbohidrat karena kegiatan mikro organisme
3.      Perubahan Protein
Nitrogen total tidak mengalami perubahan akan tetapi nitrogen dalam protein menurun.


Manfaat Daun Singkong dan Zat yang Terkandung di dalamnya
Manfaat Daun Singkong Bagi Kesehatan
Tanaman singkong (Manihot utilissima) selain dimanfaatkan daunnya, juga dimanfaatkan umbinya. Secara umum, sayuran hijau memiliki kandungan gizi alami yang bermanfaat untuk tubuh kita. Sayuran hijau banyak mengandung zat gizi, antara lain :
1.    Vitamin A dan Vitamin C
2.    Mineral seperti  zat kapur, zat besi, magnesium dan fosfor
3.    Karitenoid untuk memerangi radikal bebas
4.    Klorofil (zat hijau daun) untuk merangsang pembentukan sel darah merah dan sebagai pembersih alami (detoksifikasi) yang akan menetralkan radikal bebas sehingga dapat sebagai anti kanker dan anti penuaan
5.    Enzim protease sebagai  anti kanker ( terutama kanker pada usus)
6.    Vit K dapat membantu pembentukan tulang, mencegah pembentukan batu ginjal dan penting dalam proses pembekuan darah
7.    Seratnya bermanfaat untuk melancarkan fungsi saluran cerna sehingga makanan dan sisa – sisa olahan tubuh yang tidak berguna dapat segera dikeluarkan.
dirangkum dari : http: //www.hd.co.id/info-kesehatan/manfaat-sayuran-hijau
Daun singkong banyak mengandung :
1.    Protein
2.    Fosfor
3.    Hidrat arang
4.    Zat besi
5.    Vitamin A, B1, dan vit C
6.    Tannin dan fitofarmaka yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh

Olahan lain dari singkong
Kamis, 31 Oktober 2013
aneka olahan singkong

·             olahan

Combro
     Combro
Bahan : 
1 1/2 kg Singkong yang cukup tua, dan mempur
(istilah orang jawa yg mengatakan singkong tsb bagus & enak u/ di
konsumsi), di parut halus
1/2 butir Kelapa yang sedang (tidak terlalu tua), parut halus
Garam
Minyak untuk menggoreng.
Untuk Isi : 
1 kotak (uk. 20 cm x 10 cm) Oncom yang bagus, haluskan.
Bawang putih secukupnya
garam secukupnya
Ketumbar secukupnya
Cabe rawit bila suka pedas
Bumbu penyedap
Daun bawang rajang halus
Cara Pengolahan :
Bahan2 isi semua dihaluskan dijadikan satu adonan. Klw perlu cicipin, rasanya sudah OK or belum. Singkong yg telah diparut dicampur dgn kelapa parut & garam Buat bulatan2 lonjong masukan bahan2 untuk isinya  Tutup menjadi bulatan lonjong, atau dapat dibentuk sesuai selera Pipihkan sedikit sehingga bentuk combro agak sedikit pipih/gepeng Setelah semua adonan dibentuk, goreng dengan minyak panas Angkat setelah agak kuning kecoklatan Hidangkan selagi panas, dengan cabe rawit bila suka

o               Misro

misro
Misro memiliki bahan pembungkus yang sama dengan Combro. Cara membuatnya juga sama. Hanya isinya saja yang berbeda. Jika Combro memakai oncom sebagai bahan isian, Misro cukup menggunakan gula merah yang diiris tipis sebagai isian. Bila Anda menyukai rasa yang manis, Anda bisa mengganti 50 gram gula merah dengan 50 gram gula pasir.

o               Singkong Keju

singkong keju
BAHAN:
* 1 kg singkong
* minyak goreng
* bubuk perasa buat french fries
* susu kental manis
* keju cheddar
* 2 sdt garam
* 1 lt air
CARA MEMBUAT:
*  Kupas singkong, potong-potong melintang, cuci, tiriskan.
*  Larutkan garam dengan air dalam sebuah wadah cekung.
* Goreng singkong hingga matang tapi masih pucat, angkat, langsung masukkan ke larutan air garam, biarkan 5 menit.
* Bila singkong sudah mekar, angkat dari air garam, goreng kembali hingga kekuningan.
* Selagi masih hangat, taburi susu kental manis, bubuk perasafrench fries, dan parutan keju cheddar.
*  Sajikan.
TIPS & TRIK:
* Saat menggoreng singkong, gunakan api besar dan minyak harus banyak. Gunakan teknik deep frying, jadi singkong tidak perlu dibolak-balik, khususnya saat penggorengan kedua, daripada hancur.

o               Gethuk

Gethuk singkong adalah getuk klasik, yang berbahan utamasingkong atau cassava, cara pembuatannya sebagai berikut.

Bahan:
§                    
gethuk
§                   500 grsingkong, kupas
§                   125 gram gula pasir
§                   1/4 sdm garam
Pelengkap:
§                   1/2 kepala muda, parut panjang
§                   1/4 sdt garam
§                   1 lbr daun pandan
§                   50 gr gula pasir
Cara membuat:
·             Kukus singkong dalam dandang yang telah dipanaskan hingga matang, angkat.
·             Keluarkan dari dandang, haluskan, campurkan gula pasir dan garam, aduk rata.
·             Taruh di loyang yang dialas daun pisang, tipiskan hingga 1 1/2 cm, dinginkan, potong (2 x 2) cm.
·             Campur kelapa muda dengan garam hingga rata, tambahkan daum pandan, kukus hingga matang.
·             Sajikan gethuk singkong dengan kelapa muda dan gula pasir.

o     Keripik singkong balado

kripik kingkong
Siapa sih yang tidak suka camilan yang satu ini. Keripik Singkongmerupakan camilan yang sudah pasti banyak dinikmati di dalam maupun luar negri. Keripik singkong bisa diolah menjadi berbagai rasa yang menggugah selera, salah satunya adalah Keripik Singkong Balado. Rasa pedasnya kadang membuat kita jadi ketagihan.
Resep Bahan Keripik Singkong Balado :
·             500 gram singkong, diiris tipis
·             1 sendok teh air kapur sirih
·             1 sendok teh garam
·             750 ml air
Resep Bahan Balado Keripik Singkong Balado :
·             5 butir bawang merah, ditumbuk kasar
·             5 buah cabai merah besar, ditumbuk kasar
·             5 buah cabai merah keriting, ditumbuk kasar
·             2 lembar daun salam
·             1 sendok teh garam
·             50 gram gula pasir
·             1 sendok makan air asam jawa (dari 1/2 sendok teh asam jawa dan 2 sendok makan air, dilarutkan)
·             3 sendok makan minyak untuk menumis
·             minyak untuk menggoreng
Cara Membuat Keripik Singkong Balado :
1.          Rendam singkong dalam larutan air kapur sirih, garam, dan air. Diamkan 15 menit. Cuci bersih.
2.          Tiriskan singkong. Goreng dalam minyak panas sedang sampai matang dan kering.
3.          Tumis bawang merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, dan daun salam sampai harum.
4.          Masukkan garam, gula pasir, dan air asam jawa. Aduk sampai kental.
5.          Tambahkan singkong goreng. Aduk sampai terbalut rata.

o     Colenak
colenak
Rekomendasi :
Jajanan khas Bandung. Berbahan dasar tape atau di Bandung lebih dikenal dengan peuyeum. Musim hujan begini, dingin-dingin ditemani colenak yang hangat, hmm... Dengan saus kelapa parut yang manis, menjadikan colenak ini sebagai makanan favorit.

Belanja dulu yukz :
·             1/2 kg tape/peuyeum Bandung
·             1/2 butir kelapa, diparut halus
·             2 biji gula merah
·             air secukupnya
·             mentega secukupnya, untuk olesan saat pemanggangan
Sekarang ke dapur yukz :
1.          Pertama kita cairkan dulu gula merah dengan cara direbus dengan air. Lalu saring.
2.          Rebus kembali gula merah yang sudah dicairkan tadi dengan kelapa parut. Tambahkan air jika terlalu kental.
3.          Masak hingga matang. Biarkan dingin.
4.          Sekarang masing-masing tape/peuyeum dipotong-potong menjadi 3 bagian.
5.          Siapkan alat pemanggangan, sebaiknya gunakan wajan yang berbentuk datar.
6.          Panggang tape/peuyeum di atas api kecil dengan cara ditekan hingga menjadi rata (bahasa Medannya--sampai penyet :D). Olesi dengan mentega di kedua permukaannya dan panggang hingga agak kecokelatan.
7.          Sajikan hangat bersama saus kelapa tadi.
Tips :
- Pilihlah peuyeum yang sudah benar-benar matang dan manis rasanya.

Pesan : sebelum makan baca do'a dulu ya.....
o     Tape
tape
Seumur-umur, tape yang paling enak yang pernah aku rasakan ya tape bondowoso, selain rasanya yang manis, aroma wanginya juga menggugah selera. mari gan kita coba membuatnya:

1. Pilihlah singkong yang bagus dan rata, kemudian dikupas, dipotong- potong sesuai selera dan dicuci bersih.

2. Kemudian potongan singkong tersebut direbus sampai matang kemudian ditiriskan.

3. Tunggu singkong tersebut sampai dingin, bias juga pakai kipas angin.

4. Sediakan ragi tape yang bias dibeli di took obat makanan, kemudian ditumbuk halus dan diayak pakai ayakan atau saringan.

5. Taburkan ragi halus ke singkong-singkong yang sudah dingin sampai rata.

6. Sediakan tempat untuk menyimpan singkong yang sudah ditaburi ragi tersebut, bias memakaiplastic ataupun memakai daun pising atau daun jati.

7. Peram bungkusan singkong tersebut kurang lebih 3 hari

8. Setelah 3 hari bukalah bungkusan singkong tersebut, dan tape singkong siap dinikmati.
o     Peuyeum
- Kupas singkong dari kulitnya kemudian cuci bersih dan tiriskan.
peuyeumpuan
- Siapkan dandang kukus dalam keadaan panas,lalu kukus singkong sampai matang dan empuk.Kemudian keluarkansingkong kukus dari dandang dan biarkan hingga dingin.
- Setelah dingin lumuri seluruh permukaansingkong kukus dengan ragi,lalu simpan dalam wadah kedap udara selama 1 malam.
- Setelah disimpan 1 malam, kemudian ikat singkong beragi satu per satu dengan menggunakan tali,lalu simpan kembali dengan posisi tergantung pada suhu ruang selama 2 malam.
- peuyeumpuan siap dinikmati.  
MENGEBOR MINYAK DILADANG SINGKONG

o     Bioethanol
1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku
3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100"C selama 0,5 jam. Aduk rebusangaplek sampai menjadi bubur dan mengental.
4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akanmemecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati
5.Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
6 Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32"C dan pH 4,5—5,5.
7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol
8.Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.
9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
10 Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek


Tidak ada komentar:

Posting Komentar